Webinar Smart Parenting di Era Digital: Dampak dan Solusi yang Harus Dilakukan

Gadget dan teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari–termasuk bagi anak-anak. Meski menawarkan manfaat edukatif, penggunaan gadget yang tidak terkendali juga menimbulkan sejumlah dampak negatif terhadap tumbuh kembang anak.

Untuk menghadapi permasalahan ini, Kodiokids dengan Smartkidz mengadakan webinar berjudul Smart Parenting di Era Digital yang diadakan pada tanggal 22 Juni 2025 lalu.

Sesi ini diisi oleh Dr. Elisabeth Tri Astuti P., M.Psi., Psi., seorang Psikolog Tumbuh Kembang Anak dan anggota tim dari Superkidz. Di dalamnya, beliau membagikan beberapa dampak dan cara mengatasi anak yang terlalu sering bermain gadget.

Profil Pembicara

Webinar Smart Parenting Kodiokids x Superkidz

Sebelum memahami materi lengkapnya, mari kita simak dahulu profil singkat dari sang pembicara. Dr Elisabeth Tri Astuti P., M.Psi., Psi., adalah seorang psikolog tumbuh kembang anak yang menempuh pendidikan S1-S3 di bidang Psikologi.

Elisabeth bekerja sebagai seorang psikolog selama 21 tahun–yaitu sejak tahun 2004 hingga saat ini. Hal tersebut membuatnya menjadi salah satu narasumber yang tepat dan terpercaya untuk mengisi materi pada acara ini.

Dampak Buruk Penggunaan Gadget pada Anak Sejak Dini

Gadget telah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak sejak usia sangat dini. Namun, seiring dengan kemudahannya, ada berbagai risiko yang perlu menjadi perhatian orang tua. Mari cermati lebih dalam agar Anda dapat mengambil langkah yang bijak.

1. Attention Span Menjadi Pendek

Konten yang bergerak cepat–seperti video berdurasi singkat–menjadi rangsangan kuat bagi sistem sensorik anak. Sayangnya, sebelum otak selesai memproses satu informasi, sang anak sudah beralih ke konten berikutnya karena berbagai alasan.

Pola ini menyebabkan anak kesulitan mempertahankan fokus atau perhatian dalam jangka waktu yang lama.

2. Anak Mudah Marah karena Ketergantungan Gadget

Ketika sudah terlalu terbiasa dengan gadget, anak cenderung menunjukkan emosi negatif jika akses tersebut dibatasi. Mereka bisa menjadi mudah tantrum, rewel, atau marah saat tidak diizinkan bermain gadget. Ini menunjukkan tanda ketergantungan yang mengkhawatirkan terhadap perangkat digital.

3. Anak Menjadi Mudah Bosan

Anak Menjadi Mudah Bosan Saat Beraktivitas

Konten digital yang cepat dan beragam membuat anak kehilangan kemampuan menikmati aktivitas yang memerlukan kesabaran. Mereka jadi mudah merasa bosan saat dihadapkan pada permainan fisik atau interaksi sosial biasa. Hal ini juga bisa mempengaruhi perkembangan daya tahan konsentrasi dan kreativitas mereka.

4. Menghambat Perkembangan Bahasa (Speech Delay)

Paparan layar dalam durasi panjang tanpa interaksi dua arah menyebabkan anak kurang mendapat stimulasi verbal. 

Dalam klinik Superkidz, ditemukan banyak anak yang mengalami speech delay karena terlalu sering menggunakan gadget–terutama saat pandemi COVID-19 lalu. Selain itu, pola asuh yang terlalu protektif juga dapat menghambat perkembangan sensorik dan bahasa anak.

5. Anak Menjadi Kurang Percaya Diri

Interaksi yang didominasi oleh dunia maya membuat anak kurang terlatih bersosialisasi di dunia nyata. Mereka menjadi canggung, enggan berinteraksi, dan sulit membangun rasa percaya diri saat harus menghadapi lingkungan sosial. Akibatnya, anak lebih memilih menyendiri atau menghindari situasi yang melibatkan orang lain.

Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?

Sebagai orang tua, Anda memegang peran penting dalam membentuk kebiasaan digital anak. Dengan menerapkan pendekatan yang tepat, anak dapat tumbuh lebih seimbang dari segi  fisik, emosional, dan mental.

Dalam webinar tersebut, Elisabeth menyebutkan beberapa solusi yang harus Parents lakukan sesuai umur sang anak.

Anak Usia 0–2 Tahun: Hindari Paparan Gadget

Pada usia ini, sebaiknya anak tidak diperkenalkan dengan gadget sama sekali. Fokuskan pada aktivitas fisik dan sensorik yang mampu merangsang perkembangan otak secara alami. Aktivitas seperti bermain, berbicara langsung, dan menyentuh benda nyata jauh lebih berdampak positif bagi mereka.

Anak Usia 2–7 Tahun: Masa Eksplorasi dengan Batasan

Anak sudah mulai bisa diberikan akses gadget, namun dengan batas waktu maksimal 1 jam per hari. Jangan berikan gadget setiap kali anak memintanya dan pastikan untuk selalu mendampinginya juga. Hindari konten yang tidak ramah anak karena algoritma dapat terus merekomendasikan konten serupa.

Orang Tua Melakukan Pendampingan Aktif di Masa Sekolah

Anak Usia 7–12 Tahun: Pendampingan Aktif di Masa Sekolah

Di masa ini, mereka harus menggunakan gadget dalam proses pembelajaran formal–apalagi di era digital seperti sekarang. Larangan total justru membuat mereka mudah berbohong atau sembunyi-sembunyi. 

Untuk itu, ajarkan anak untuk menyampaikan perasaannya dan dampingi saat mereka menjelajah internet agar tetap dalam pengawasan dan pembimbingan.

Strategi Smart Parenting Menghadapi Anak di Era Digital

Mendidik anak di era digital menuntut Parents untuk lebih adaptif dan responsif. Untuk itu, Anda harus menerapkan strategi yang tegas dan penuh empati. Berikut pendekatan yang bisa Anda pertimbangkan untuk diterapkan di rumah.

1. Gunakan Pendekatan Emosional

Dekati anak dengan kasih sayang dan komunikasi yang hangat. Tanyakan apa yang mereka tonton dan bagaimana perasaannya.

Terakhir, jangan lupa untuk menjelaskan mana konten yang baik dan yang tidak. Pendekatan ini akan membangun kepercayaan dan membuka ruang diskusi sehat antara orang tua dan anak.

Orang Tua Dapat Mengalihkan Perhatian Anak ke Aktivitas Fisik

2. Alihkan Perhatian Anak ke Aktivitas Fisik

Saat anak libur sekolah dan tak ada kegiatan, arahkan mereka pada aktivitas fisik yang menyenangkan seperti bermain di luar rumah. 

Jika belum tertarik, alihkan ke aktivitas digital positif seperti belajar coding. Aktivitas ini akan mengasah logika, kreativitas, dan pemecahan masalah anak.

Pertanyaan Umum dari Orang Tua dan Solusinya

Dalam webinar ini, para orang tua juga memberikan beberapa pertanyaan yang terkait dengan materi yang dibawakan. Barangkali, beberapa di antaranya dapat menjawab kondisi yang sedang Parents alami selama ini.

Q1: Bagaimana Menghadapi Anak yang Tantrum karena Ketagihan Gadget?

Kuncinya adalah konsistensi dalam pola asuh. Jangan menyerah meski anak menangis atau marah, tapi tetap beri ruang aman dan jauhkan dari benda berbahaya.

Setelah emosi reda, ajak anak mengenali emosinya dan berikan terapi sentuhan seperti pijatan lembut dan pelukan hangat sebagai bentuk bonding.

Q2: Bagaimana Menyikapi Sekolah yang Mewajibkan Penggunaan Gadget?

Orang tua tidak bisa melarang sepenuhnya karena teknologi sudah menjadi bagian dari pendidikan. Dampingi anak dan ajak mereka berdiskusi mengenai pengalaman menggunakan gadget. 

Jadilah teman mereka agar mereka mau terbuka dan jangan lupa tentukan batas waktu pemakaian yang rasional sesuai usia.

Q3: Apa Solusi untuk Menghadapi Anak Remaja (Usia 19 Tahun) Terlalu Lama Menggunakan Gadget Saat Waktu Luangnya?

Alih-alih melarang, arahkan mereka ke kegiatan yang sesuai dengan minatnya. Misalnya, jika tertarik dengan game, arahkan mereka untuk belajar membuat game agar jadi potensi karier. Gadget juga bisa berdampak pada kesehatan emosi dan waktu tidurnya. Untuk itu, bantulah mereka membuat rutinitas yang lebih sehat.

Q4: Bagaimana Menghadapi Siswa dengan Attention Span Pendek?

Perlu kolaborasi antara guru dan orang tua. Perhatikan kemungkinan penyebabnya seperti gangguan konsentrasi atau kurangnya stimulasi sensorik. 

Jika perlu, konsultasikan ke klinik tumbuh kembang anak dan berikan punishment edukatif yang membentuk keterampilan motorik, seperti menulis tangan.

Dampingi Anak secara Bijak di Dunia Digital

Paparan gadget sejak dini memang tak terelakkan. Namun, bukan berarti kita sebagai orang tua tidak bisa mengendalikan dampaknya. Anda perlu menerapkan pola asuh yang konsisten, pendampingan aktif, serta komunikasi yang hangat dan penuh kasih sayang.

Untuk mengalihkan screen time anak dengan kegiatan yang mendidik, Anda bisa mendaftarkan sang anak untuk mengikuti berbagai pembelajaran yang menarik di Kodiokids. Sebagai platform edukasi coding dan game dari Coding Studio, kami menyediakan learning class interaktif dengan materi ter-update

Berikut adalah beberapa pilihannya:

Program Anak Usia 6-11 Tahun

Program Anak Usia 6-11 Tahun

Program Anak Usia 11-18 Tahun

Program Anak Usia 11-18 Tahun

Kodiokids juga sudah lulus uji kelayakan STEM dan berstandar internasional. Terakhir, kami juga sudah resmi menjadi salah satu lembaga pendidikan dan diklat yang terpilih sebagai fasilitator untuk program Kemendikbudristek–yaitu Koding dan Kecerdasan Artifisial (KA). 

Dalam program ini, kami membantu menyediakan materi yang menarik, pelatihan intensif bagi guru, hingga mencetak siswa yang siap menghadapi era Industri ke depannya.

Jika Anda tertarik, Anda bisa mengikuti trial class GRATIS dengan mengisi form berikut. Dukung minat dan keterampilan digital mereka bersama Kodiokids!

Scroll to Top